Sebutkan ciri-ciri negara berkembang

Yang termasuk ke dalam beberapa ciri-ciri negara berkembang adalah:
a. Pendapatan perkapita pada umumnya kecil
b. Permodalan yang ditanamkan masih relatif kecil
c. Tenaga ahli belum banyak tersedia
d. Angka kematian bayi masih tinggi
e. Pertumbuhan penduduk per tahun tinggi
f. Angka harapan hidup rendah
g. Sebagian besar penduduk bertempat tinggal di desa
h. Tingkat pendidikan penduduknya masih rendah
i. Perekonomian sebagian besar didorong dari sektor pertanian

Pengertian Negara Berkembang adalah Negara berkembang adalah negara yang rakyatnya memiliki tingkat kesejahteraan atau kualitas hidup taraf sedang atau dalam perkembangan

Ciri – Ciri Negara Berkembang

  1. Memiliki tingkat pendapatan perkapita yang rendah

Pendapatan perkapita adalah rata-rata pendapatan penduduk di suatu negara. Kita bisa mengetahui pendapatan perkapita dengan membagi pendapatan nasional dengan jumlah penduduk negara tersebut. Negara berkembang memiliki pendapatan perkapita yang tergolong rendah. Hampir separuh negara di dunia tergolong ke dalam negara berkembang.

  1. Tingginya angka kelahiran

Negara berkembang memiliki jumlah penduduk yang banyak dengan angka kelahiran yang tinggi. Tingginya angka kelahiran didorong oleh pernikahan dini, rendahnya tingkat pendidikan, dan lain sebagainya. Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2013 menyatakan bahwa tingginya angka kelahiran, terutama di negara-negara berkembang, adalah tantangan dunia yang belum selesai. Walaupun secara global pertumbuhan penduduk dunia melambat, namun di beberapa negara berkembang, khususnya di Afrika, masih berkembang pesat. Bahkan dilaporkan menurut “Prospek Penduduk Dunia” dari PBB dari rentang tahun 2011 dan 2100 pertumbuhan penduduk terkonsentrasi pada 8 negara yang rata-rata adalah negara berkembang, antara lain Nigeria, Niger, India, Tanzania, Kongo, Uganda, Ethiopia, dan AS.

  1. Tingkat korupsi tinggi

Korupsi adalah perbuatan keji yang masih mengakar di pemerintahan sebuah negara. Namun tingkat korupsi di negara berkembang memang lebih tinggi dibandingkan negara maju. Koalisi Anti Korupsi Internasional Transparency merilis sebuah survei negara – negara paling korup di dunia. Hal ini tentu tidak mudah mengingat praktik korupsi yang terselubung dan tak tercium massa. Meski begitu melalui Corruption Perception Index terdapat 168 negara yang diurutkan berdasarkan tingkat korupsinya. Di peringkat pertama adalah sebuah negara berkembang di Amerika Latin yaitu Meksiko. Meksiko dikenal sebagai pusat perdagangan narkoba yang menyusupi pasar Amerika Serikat. Tak heran budaya korupsi disana sangat sulit diberantas karena menyangkut banyak pihak dan mafia pasar gelap.

  1. Lebih banyak mengimpor barang dari negara lain

Impor dilakukan dengan tujuan memenuhi kebutuhan yang tidak bisa didapatkan dari produksi dalam negeri. Negara berkembang memiliki keterbatasan teknologi dan keahlian untuk memenuhi kebutuhan para penduduknya. Salah satu ciri negara berkembang adalah kegiatan impor barang yang sangat banyak dari negara lainnya. Sebagai contoh Indonesia yang masih mengimpor beras dari luar negeri. Impor beras dilakukan karena permintaan pasar yang tinggi sedangkan produksi beras dalam negeri masih kurang. Hal ini berimbas pada kesejahteraan para petani lokal yang masih rendah tidak seimbang dengan permintaan beras yang tinggi di pasaran.

  1. Penduduknya kurang disiplin

Penduduk negara berkembang memiliki tingkat disiplin yang rendah. Berbeda dengan penduduk di negara maju yang sangat menghargai waktu dan disiplin menaati peraturan. Di negara berkembang disiplin belum menjadi budaya dan kebiasaan sehingga masih banyak ditemui pelanggaran disiplin di kehidupan sehari-hari. Untuk mengubah mental masyarakat diperlukan peran pemerintah terutama pimpinan negara yang tegas dalam menegakkan aturan.

  1. Banyaknya penduduk miskin

Penduduk miskin adalah ciri – ciri dari sebuah negara yang masih berkembang. Di tahun 2014 tercata satu dari lima orang yang hidup kekurangan tinggal di negara berkembang. Mereka hanya mempunyai $ 1,25 per hari atau sekitar Rp 17.287,5. Sepertiga masyarakat miskin dunia terpusat di India Asia Selatan yang menduduki peringkat pertama. Pada tahun 2015, Bank Dunia menyatakan bahwa terdapat 40 persen penduduk miskin berada di negara – negara berkembang dimana pertumbuhan melambat sepanjang tahun. Laju perekonomian yang melambat berdampak pada pertumbuhan global secara keseluruhan. Efek tidak langsung dari perlambatan yang terjadi di negara berkembang diprediksi akan menghambat upaya pemberantasan kemiskinan dan kesejahteraan penduduk. Negara berkembang lebih baik fokus pada kondisi ekonomi yang lemah dan melindungi masyarakat yang rentan terhadap risiko kemiskinan.

  1. Tidak memiliki modal yang cukup

Negara berkembang adalah incaran para investor asing untuk menanamkan modal. Sebagai negara berkembang diperlukan dana yang besar untuk membangun dan memperbaiki infrastruktur untuk pembangunan. Modal adalah salah satu faktor pencetus pertumbuhan ekonomi yang menjadi tujuan sebuah negara. Untuk mendapatkan modal yang cukup diperlukan andil para investor yang berinvestasi. Akibat krisis global yang melanda negara-negara maju di Eropa, negara berkembang menjadi sasaran investasi sejak tahun 2016. Stabilitas politik yang relatif aman, pertumbuhan ekonomi yang besar, pasar yang lebih tahan terhadap gejolak perekonomian dunia, dan reformasi pemerintahan adalah daya tarik tersendiri sebuah negara berkembang.

  1. Mengandalkan sumber daya alam negara sebagai pemasukan utama

Sumber daya alam yang melimpah tidak menjamin kemajuan sebuah negara. Banyak negara yang tidak memiliki kekayaan alam namun mampu berkembang dan menjadi negara maju. Semua itu kembali kepada bagaimana pemerintah negara mengolah sumber daya alam menjadi pemasukan unggulan. Rata – rata negara berkembang di dunia memiliki potensi alam yang berlimpah namun tidak mampu mengolahnya karena keterbatasan modal dan IPTEK.

Sebagai contoh negara Liberia di Benua Afrika. Liberia adalah negara yang kaya akan barang tambang seperti emas, berlian, besi, pasir, uranium, permata, dll. Namun pada tahun 2015, pendapatan perkapitanya hanya mencapai $ 934. Konflik berkepanjangan mengakibatkan produksi tambang nyaris mendekati nol. Padahal pada tahun 1970 25% PDB negara disokong oleh emas yang dihasilkannya. Manajemen yang buruk mengakibatkan para penduduk tidak bisa menikmati kekayaan alam mereka dan harus terlibat konflik tanpa akhir.

  1. Tingginya angka kematian bayi

Tingkat kematian bayi adalah jumlah kematian bayi yang belum mencapai usia satu tahun per 1.000 kelahiran hidup dalam satu tahun. Pada tahun 2018, Unicef menuturkan bahwa angka kematian bayi secara global termasuk ke dalam golongan mengkhawatirkan. Setiap tahun 2,6 juta bayi di seluruh dunia tidak mampu bertahan hidup lebih dari satu bulan dan satu juta diantaranya meninggal saat lahir. Negara penyumbang kematian bayi terbanyak adalah negara – negara berkembang yang terletak di kawasan Afrika.

Nigeria sebagai salah satu negara berkembang menduduki posisi ke-11 sebagai negara yang memiliki tingkat kematian bayi tertinggi dengan 29 kematian per 1.000 kelahiran. Kesulitan yang dihadapi adalah sulitnya mendapat pertolongan karena konflik, kemiskinan, dan kurangnya perhatian pemerintah. Kematian bayi disebabkan oleh beragam faktor seperti komplikasi saat lahir, asfiksia, ataupun infeksi. Kematian bayi dapat dicegah dengan penanganan yang tepat oleh paramedis dengan kontrol ke bidan terlatih pra dan pasca melahirkan, akses air besih, nutrisi yang cukup, dan sebagainya.

  1. Tingkat buta huruf yang masih tinggi

Buta huruf secara sempit diartikan sebagai ketidakmampuan membaca, menulis, dan berhitung. Pada tahun 2013, UNESCO melaporkan bahwa masih terdapat 775 juta orang dewasa yang menderita buta huruf di dunia. Selain itu terdapat 61 juta anak – anak yang tidak merasakan bangku sekolah. Untuk memberantas buta huruf diperlukan komitmen negara yang solid. Untuk membasmi buta huruf, PBB mencanangkan program United Nations Literacy Decade (UNLD) atau Satu Dekade Keaksaraan Persatuan Bangsa – Bangsa periode 2003 – 2012. Namun hingga saat ini buta huruf masih menjadi pekerjaan rumah bagi sebagian negara berkembang di dunia.

India sebagai salah satu negara berkembang memiliki seperempat populasi penduduk yang menderita buta huruf. Pada tahun 2011, menurut PlanetRead (salah satu organisasi di India) terdapat 400 juta orang India yang tinggal di pedesaan dan tidak mampu membaca teks sehari-hari yang sederhana. Mereka menghabiskan waktu rata-rata lebih dari 3 jam untuk menonton televisi. Salah satu solusi yang ditawarkan adalah dengan menambahkan teks layaknya karaoke di tayangan televisi. Sebagaimana kita tahu India terkenal dengan Bollywood, yaitu industri perfilman yang sangat besar dan digemari baik oleh penduduk lokal dan dunia internasional. Melalui media televisi PlanetRead berusaha meningkatkan literasi dengan menambah subjudul bahasa yang sama ke dalam film musikal. Penonton akan membaca bahasa yang sama dengan bahasa yang didengar. Cara ini melibatkan penonton untuk membaca sambil bernyanyi mengikuti iringan lagu. Diharapkan melalui cara ini tingkat buta huruf di India akan semakin berkurang.

  1. Tingginya tingkat perkawinan di bawah umur

Perkawinan di bawah umur adalah salah satu ciri negara berkembang. Bank Dunia dan International Center for Research on Women menyatakan bahwa kerugian negara berkembang bisa mencapai miliaran dolar akibat pernikahan di bawah umur di tahun 2030.

Di Indonesia misalnya, disebutkan pernikahan di bawah umur adalah apabila sang wanita masih berumur di bawah 16 tahun, sesuai UU nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan. Di usia tersebut organ reproduksi wanita belumlah matang. Hal ini mengakibatkan rentannya kematian bayi karena komplikasi. Selain itu terdapat risiko lainnya pada sang bayi, antara lain peluang bayi penderita stunting lebih tinggi pada ibu muda dibandingkan ibu dengan usia yang matang. Stunting adalah gizi buruk yang kronis dan ditandai dengan pertumbuhan tinggi badan yang tidak maksimal sehingga bertumbuh pendek dan berbadan kurus. Pada tahun 2018 pemerintah pusat Indonesia menanggung biaya mendekati 50 miliar akibat stunting. Selain itu akibat pernikahan dini, sang wanita berisiko tidak melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi. Kebanyakan mereka memutuskan untuk menjadi ibu rumah tangga ataupun bekerja tanpa skill yang mumpuni. Hal ini tentu saja menyumbang kepada kesejahteraan penduduk yang rendah.