Dalam genetika, kita berbicara tentang fenotipe untuk merujuk pada karakteristik fisik yang dapat diamati dari suatu organisme, produk dari ekspresi atau manifestasi dari informasi genetik yang terkandung dalam genotipe, sesuai dengan kondisi lingkungan yang ditentukan di mana organisme itu hidup. Dengan kata lain, itu adalah manifestasi fisik dan perilaku dari apa yang terkandung dalam DNA suatu makhluk, meskipun itu juga dipengaruhi oleh tekanan lingkungan di mana ia hidup.

Kata fenotipe mengacu pada setiap sifat yang dapat diamati dari suatu organisme, yang mencakup perkembangannya, sifat biokimianya, fisiologinya, perilakunya, dll. Misalnya, warna bulu burung merupakan bagian dari fenotipenya. Kata ini berasal dari bahasa Yunani, dan merupakan hasil dari penyatuan phainein (“muncul”) dan typhos (“jejak”), dari mana disimpulkan bahwa itu adalah munculnya jejak tersembunyi, seperti halnya kode genetik.

Fenotipe dari setiap individu dengan demikian ditentukan oleh susunan genetik unik yang dikandung DNA-nya, sehingga genotipe yang berbeda menghasilkan fenotipe yang berbeda. Itulah alasan mengapa dua anak dari ibu yang sama dan ayah yang sama bisa sangat berbeda secara fisik satu sama lain.

Namun, terlepas dari informasi genotipe yang dimanifestasikan, tekanan lingkungan juga akan membentuk fenotipe suatu organisme, karena ia dapat mengalami kecelakaan, perubahan, atau adaptasi yang tidak akan dialami oleh individu yang secara genetik serupa tetapi di lingkungan lain.

Sehingga rumus berikut terpenuhi:

Fenotipe = Genotipe + Lingkungan.

Lihat juga: Genetika