Konsep kebenaran adalah dan tidak diragukan lagi salah satu tema besar filsafat yang menjadi subjek studi para pemikir besar seperti Plato dan René Descartes.

Bagi Plato, dunia adalah cerminan tidak sempurna dari dunia yang sangat masuk akal: “dunia ide”, di mana kebenaran adalah cita-cita yang harus dicapai bersama dengan keindahan dan kebaikan. Untuk ini, jiwa individu (yang bukan milik dunia ini, tetapi milik gagasan) harus “mengingat” apa adanya di momen lain keberadaannya.

Pada abad ketujuh belas, pemikir Prancis René Descartes memutuskan tradisi Barat dengan memperkenalkan “keraguan hiperbolik”: menggunakan keraguan sebagai metode untuk mencapai kebenaran. Setelah beberapa refleksi, dia sampai pada argumen cogito, “cogito ergo sum”, yang berarti “Saya berpikir, maka saya ada.”

Satu-satunya kebenaran yang tak terbantahkan bagi Descartes adalah bahwa seorang individu ada, terlepas dari apakah dia bermimpi atau tidak, apakah dia ditipu atau tidak, karena semua ini diperlukan sebagai dasar seseorang yang bermimpi atau tertipu.

Selama abad 18 dan 19, para filsuf idealisme Jerman mengajukan beberapa pertimbangan tentang konsep kebenaran. Bagi Immanuel Kant, kebenaran adalah kecukupan pengetahuan dengan objek; di sisi lain, Friedrich Hegel menganggap yang mutlak benar.