Latar Belakang Revolusi Ilmiah

Agar Revolusi Ilmiah terjadi, perlu untuk mengatasi obskurantisme yang khas dari era abad pertengahan, di mana iman dan agama menguasai pemikiran Barat dengan tangan besi. Langkah pertama adalah ketika warisan klasik Purbakala dipulihkan, terutama dari budaya Yunani-Latin. Untuk ini ditambahkan kontribusi ilmu pengetahuan Islam abad pertengahan.

Untuk ini, kemunculan mesin cetak pada abad ke-15 juga diperlukan, yang memungkinkan massifikasi dan demokratisasi pengetahuan. Selain itu, borjuasi muncul sebagai kelas sosial baru yang mengubah dunia. Kelas saudagar ini, yang berasal dari rakyat jelata tetapi memiliki harta benda yang penting, berhasil menghapus tatanan feodal.

Saat memperoleh kekuasaan, borjuasi memaksa aristokrasi untuk melonggarkan aturannya, dan melemahkan cengkeraman kuat Gereja pada budaya. Namun, banyak pemikir Revolusi Ilmiah menderita penganiayaan oleh Inkuisisi Katolik, seperti kasus Galileo yang terkenal, yang dipaksa untuk secara terbuka menarik kembali ide-ide revolusionernya.

Di sisi lain, pemikiran filsuf Yunani Aristoteles berlaku pada awal Revolusi Ilmiah. Pengaruh Aristotelian adalah salah satu yang paling sulit dipatahkan, terutama konsepsinya tentang kosmos sebagai ruang di mana Bumi menempati tempat sentral.

Berkat kontribusi Eudoxus dari Knidos dan Claudius Ptolemy, visi baru tentang kosmos dapat terbentuk dalam karya Nicolaus Copernicus, sehingga memunculkan caral heliosentris dan era pemikiran baru.