Sejarah keberbedaan

Diferensiasi laki-laki telah bervariasi sepanjang sejarah. Pada awalnya, Aristoteles berpendapat bahwa manusia tidak dilahirkan sama: Beberapa dilahirkan untuk tunduk pada perbudakan, sementara yang lain dilahirkan untuk memerintah. Di sisi lain, Thomas Hobbes berpendapat bahwa semua manusia dilahirkan sama.

Dalam lingkungan alam dan tanpa psikologi atau sosiologi yang menjadi subjeknya, semua manusia adalah sama. Namun, perbedaan dalam fisiognomi manusia terlihat, karena beberapa pria lebih besar dan lebih kuat daripada yang lain. Ada juga perbedaan intelektual, jadi kita menemukan bahwa beberapa orang lebih pintar dari yang lain. Ini adalah kenyataan sehari-hari yang tidak bisa dibicarakan. Tetapi perlu ditekankan bahwa penggunaan akal, seperti yang diusulkan oleh Descartes, adalah area di mana kita dapat mengamati kesetaraan terbesar antara laki-laki.

Otherness dan otherness adalah kata-kata yang pada dasarnya mewakili hal yang sama: konsep melihat yang lain berbeda dari yang satu, yang LAIN sebagai apa yang bukan saya. Hal ini dapat diamati dalam hubungan manusia seperti budaya, ras, orientasi seksual. Namun, diferensiasi ini tidak akan pernah tercapai 100%, karena kita semua adalah bagian dari alam semesta yang sama, kita semua adalah manusia.