Saat ini tidak ada perbedaan yang jelas dan universal antara istilah “sosialisme” atau “sosialis” dan “komunisme” atau “komunis”. Namun, istilah komunisme dikaitkan dengan aspek yang paling radikal atau ekstremis, sedangkan sosialisme dicadangkan untuk bentuk yang lebih longgar atau lebih digabungkan dengan demokrasi.

Namun, istilah “komunisme” lebih dulu daripada “sosialisme”, dan umum digunakan oleh neo-Babuvistas (pengikut warisan François Babeuf). Diantaranya adalah Perancis seperti Jean-Jacques Pillot dan tienne Cabet.

Keduanya menyelenggarakan perjamuan besar dengan kehadiran lebih dari seribu pengunjung, hampir semua pekerja, di pinggiran Paris pada 1 Juli 1840. Di sana mereka membahas perlunya perubahan besar untuk mencapai “kesetaraan nyata”, yang tidak hanya berjalan melalui politik.

Pada masa itu, “komunis” dan “sosialis” membedakan diri mereka sendiri, tepatnya, dalam tingkat radikalisme mereka dan komitmen yang mereka tunjukkan pada ide-ide perjuangan kelas. Inilah tepatnya mengapa Marx dan Engels memilih istilah “komunisme” dan bukan “sosialisme” untuk mengembangkan tesis filosofis mereka dan untuk menamai asosiasi yang mereka dirikan pada tahun 1847, Liga Komunis.

Namun, baik Engels maupun Marx menganggap bahwa sosialis dan komunis memiliki tujuan yang sama: mencapai masyarakat tanpa kelas sosial. Dalam pengertian itu, sosialisme adalah tahap pertama, yang lebih longgar, yang akan membuka pintu bagi komunisme, mengalahkan negara dan mengalahkan demokrasi borjuis.